Home
 » 
Resources » Headhunter Insight » Apa itu Hiring Freeze dan Mengapa Perusahan Melakukannya?

Apa itu Hiring Freeze dan Mengapa Perusahan Melakukannya?

Share This Post!

hiring freeze

Belakangan ini istilah hiring freeze makin sering didengar. Terutama setelah Elon Musk menyatakan Tesla tidak akan merekrut karyawan baru lagi. Tapi nyatanya, dua hari kemudian pihak Tesla sendiri meralat bahwa pertumbuhan jumlah karyawan tetap ada, hanya saja standar gaji lebih datar.

Hiring freeze adalah fenomena yang tak hanya terjadi di Tesla saja. Banyak perusahaan besar berskala global lainnya yang menyatakan akan memangkas posisi di perusahaan mereka. Di antaranya ada Microsoft, Twitter, Nvidia, Netflix, dan lain-lain. Sebenarnya apa itu hiring freeze dan apa pula tujuannya? Dapatkan infonya di sini.

Pengertian Hiring Freeze

Hiring freeze artinya perusahaan melakukan penundaan merekrut karyawan. Opsi ini biasanya dipilih ketika perusahaan sedang mengalami kondisi keuangan yang kurang baik. Jadi proses perekrutan akan ditunda hingga keadaan perusahaan membaik. Kalau pun ada posisi yang kosong, maka posisi tersebut dibiarkan terbuka. Selain itu, perusahaan juga akan menunda dibukanya posisi baru, kecuali jika posisi tersebut sangat dibutuhkan.

Jika ada posisi yang harus diisi atau harus membuat posisi baru, maka karyawan yang diambil adalah konsultan atau pekerja paruh waktu. Agar perusahaan bisa beradaptasi dengan situasi yang baru, maka biasanya perusahaan akan melakukan restrukturisasi. Berbagai posisi akan dievaluasi. Lalu posisi yang kurang penting dan kurang efisien maka akan dihilangkan. Dengan begitu, fokus perusahaan bisa lebih ditujukan pada posisi yang memiliki peran penting saja.

Tujuan Hiring Freeze

Hiring freeze banyak dilakukan perusahaan selama masa pandemi COVID-19. Tujuan utama diberlakukannya hiring freeze adalah untuk menstabilkan beban dan biaya yang ditanggung perusahaan. Dengan menunda perekrutan karyawan, maka pengeluaran pun bisa ditekan dan diperlambat. Beban yang dikurangi adalah beban biaya rekrutmen, gaji dan tunjangan karyawan.

Tak hanya itu, hiring freeze juga bisa menunda pembiayaan di sektor lain. Misalnya saja biaya penelitian, pelatihan, penempatan, dan lain sebagainya. Karena banyak posisi yang kurang efisien ditiadakan sementara, jadi biaya-biaya ini pun bisa ditekan.

Alasan Perusahaan Melakukan Hiring Freeze

alasan perusahaan melakukan hiring freeze

Pada dasarnya, perusahaan melakukan hiring freeze di saat kondisi keuangan sedang tidak baik. Penyebab kondisi ini terjadi bisa disebabkan karena beberapa hal. Ini dia beberapa alasannya:

Perubahan Pasar

Kondisi pasar pasti berpengaruh pada perusahaan, terutama dari segi pendapatan dan laba perusahaan. Contoh perubahan pasar yaitu adanya kompetitor baru yang membuat konsumen mungkin beralih. Lalu kebutuhan konsumen yang bergeser. Pasar juga bisa berubah karena perkembangan teknologi.

Layanan baru atau produk baru bisa berakibat pada penurunan pendapatan dan keuntungan perusahaan. Di saat seperti ini, perusahaan dipaksa untuk mengencangkan ikat pinggang. Salah satu langkah yang diambil adalah hiring freeze.

Krisis Global

Meski sebisa mungkin dihindari, tapi di berbagai momen tertentu krisis berskala global kadang tak bisa dihindari. Misalnya terjadi peperangan antara dua negara besar. Kedua negara ini sebelumnya menjadi pemasok atau sumber untuk berbagai kebutuhan penting bagi masyarakat global. Karena keduanya sedang mengalami krisis, akhirnya yang terdampak adalah berbagai negara lainnya.

Contoh lain adalah saat terjadi pandemi. Karena perusahaan cenderung mengalami penurunan pendapatan, maka salah satu solusi untuk mengatasi kondisi perusahaan adalah dengan mengurangi jumlah karyawan dan menunda proses perekrutan karyawan. Setidaknya di saat wabah global, biaya perusahaan jadi lebih ringan.

Defisit Anggaran

Untuk mengadakan rekrutmen karyawan baru, perusahaan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dari mulai proses awal pasang iklan lowongan kerja saja sudah butuh biaya. Setelah itu, proses seleksi juga membutuhkan biaya tambahan. Selain itu ada tunjangan untuk perekrut apabila diperlukan, terutama kalau prosesnya dilakukan sampai lembur. Kemudian, perusahaan juga harus menyediakan biaya untuk gaji dan tunjangan bagi karyawan baru yang lolos seleksi.

Saat kondisi keuangan perusahaan sedang normal dan baik-baik saja, anggaran untuk perekrutan bisa didapat dengan mudah. Tapi dalam keadaan defisit dan kesulitan, jelas perekrutan karyawan adalah hal besar yang sulit untuk dilakukan. Untuk melindungi kondisi keuangan perusahaan, sebaiknya proses perekrutan karyawan ditunda terlebih dahulu.

Kekhawatiran Terhadap Likuiditas

Likuiditas yang rendah membuat perusahaan jadi kesulitan memenuhi kewajiban, terutama yang sifatnya jangka pendek. Inilah sebabnya kenapa likuiditas rendah bisa mempengaruhi aktivitas operasional bisnis. Inilah yang menyebabkan aset lancar selalu dibutuhkan oleh perusahaan.

Dengan aset lancar yang  cukup, maka perusahaan bisa memenuhi berbagai kewajiban jangka pendek mereka. Tapi bagi perusahaan yang tidak memiliki aset lancar, maka proses perekrutan karyawan harus dilakukan untuk sementara waktu. Diharapkan situasi bisa segera membaik, agar perkembangan perusahaan bisa kembali diusahakan dan diperbaiki.

Dampak Hiring Freeze

dampak hiring freeze

Tentu saja ditundanya proses perekrutan karyawan akan menghasilkan beberapa dampak bagi perusahaan. Dampak yang paling besar adalah bertambahnya beban kerja karyawan. Apalagi kalau ada posisi yang kosong. Kecil atau besar peran posisi itu, pasti ada yang hilang. Akibatnya, karyawan yang ada harus menangani peran tersebut. Tugas dan kewajiban mereka pun otomatis bertambah. Kondisi semacam ini tak bisa dihindari saat perusahaan memberlakukan hiring freeze.

Meskipun karyawan yang ada masih cukup banyak, tapi tetap saja tanggung jawab mereka bertambah untuk sementara waktu. Kalau hiring freeze hanya berlangsung sebentar, maka masih bisa teratasi dengan baik dengan cara membagi pekerjaan secara adil di antara karyawan yang tersisa. Jadi tanggung jawab yang bertambah bisa dilakukan bersama-sama.

Tapi akan berbeda dampaknya kalau kondisi hiring freeze berlangsung dalam jangka waktu lama. Tiap karyawan pasti punya batasan. Kalau dipaksakan bekerja lembur terus-menerus, misalnya, kondisi fisik mereka pasti menurun. Kalaupun secara fisik karyawan merasa baik-baik saja, tapi rasa bosan dan jenuh akan lebih cepat terasa. Karyawan pun bisa kehilangan motivasi, ide-ide dan inspirasi baru yang kreatif bisa menurun drastis.

Dampak yang paling merepotkan lagi kalau karyawan merasa sudah terlalu jenuh, mereka bisa memutuskan untuk keluar dari perusahaan. Sementara perusahaan tidak bisa lagi merekrut karyawan baru. Jadi beban karyawan yang tersisa akan makin bertambah lagi. Hal ini sebenarnya bisa diatasi kalau perusahaan bisa menetapkan titik akhir hiring freeze. Setelah berakhir, perusahaan bisa mulai merekrut karyawan baru.

Masalahnya adalah mungkin saja perusahaan pun tidak yakin kapan hiring freeze akan berakhir. Jadi karyawan tidak tahu sampai kapan mereka harus bekerja dalam kondisi tertekan seperti itu. Di saat inilah karyawan biasanya mengalami titik jenuh dan memutuskan untuk keluar.

Akhir Kata

Setelah memahami apa arti hiring freeze secara keseluruhan, Anda juga semakin mengerti dampaknya pada karyawan dan perusahaan itu sendiri. Kondisi keuangan yang stabil dan aset lancar harus dimiliki setiap waktu untuk menghindari pemberlakuan hiring freeze dalam kondisi apa pun. Kalau pun perlu dilakukan, setidaknya jangan berlangsung terlalu lama demi kebaikan karyawan dan perusahaan.


Share This Post!